Mengalahkan Inflasi, Insyallah Kita Bisa…

Mengalahkan Inflasi, Insyallah Kita Bisa…

Written by Muhaimin Iqbal
Monday, 15 March 2010 08:32

Dalam ilmu ekonomi, yang dimaksud dengan inflasi adalah kenaikan harga-harga terhadap barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu. Menurut para penganut teori Monetarist, penyebab utama inflasi ini adalah supply uang. Bahkan dalam pandangan Monetarist Economist terkenal Milton Friedman "Inflation is always and everywhere a monetary phenomenon."

Dalam sistem ekonomi barat ada yang berpendapat bahwa inflasi ini ada positifnya karena antara lain berguna untuk mendorong investasi sektor riil. Ketika inflasi tinggi orang cenderung untuk tidak mempertahan assetnya dalam bentuk uang – tetapi dalam bentuk barang, kebutuhan akan barang inilah yang mengangkat produksi dan memutar ekonomi.

Dalam Islam, produksi sektor riil tidak didorong oleh inflasi tetapi oleh putaran uang yang lebih cepat. Kekayaan bukan untuk ditimbun tetapi berputar ke masyarakat luas – berputar tidak hanya pada yang kaya tetapi juga pada yang miskin. Dalam pandangan Ibnu Taimiyyah, pemerintah yang mencetak fulus melebihi kebutuhan transaksi – dus menyebabkan inflasi – adalah pemerintah yang mendhalimi rakyatnya.

Pandangan Ibnu Taimiyyah inilah yang sebenarnya lebih pas untuk manusia modern di zaman ini sekalipun. Pemerintah-pemerintah dunia akan mampu menjaga kemakmuran rakyatnya bila mereka bisa menurunkan atau bahkan menghilangkan inflasi – kalau saja mereka mau !.

Contoh betapa inflasi menyengsarakan rakyat seluruh dunia dapat dilihat dari data yang dikeluarkan oleh International Rice Research Institute (IRRI) yang menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir saja, harga beras di dunia telah mengalami kenaikan rata-rata hampir dua kali lipat. Padahal sangat sedikit porsi penduduk dunia yang bisa meningkatkan penghasilannya dua kali lipat dalam periode tersebut.

Artinya, rata-rata penduduk dunia menurun tingkat kemakmurannya – karena penurunan daya beli uangnya ini. Hal ini juga bisa kita rasakan di rumah tangga kita masing-masing. Bisa saja penghasilan kita meningkat dari tahun ketahun, tetapi kok beban hidup tidak terasa lebih ringan ya…?; bila Anda merasakan hal yang sama – sangat bisa jadi ini karena kenaikan penghasilan Anda kalah cepat dengan inflasi terhadap harga-harga kebutuhan pokok Anda.

Yang bisa mengendalikan inflasi ini adalah pemerintah khususnya otoritas moneter; rakyat seperti kita tidak bisa mengendalikan inflasi ini. Meskipun demikian, sebenarnya ada yang bisa dilakukan oleh rakyat seperti kita-kita untuk tidak menjadi korban inflasi ini. Dengan apa kita dapat melakukan ‘perlawanan’ terhadap inflasi ini ?.

Dengan meminimise penggunaan uang yang menjadi penyebab inflasi tersebut. Menurut para penganut paham Monetarist diatas, inflasi kan disebabkan oleh supply uang – ya jangan taruh kekayaan Anda yang kegunaannya bersifat jangka panjang dalam bentuk uang. Bila Mayoritas kekayaan Anda tersimpan dalam nominal mata uang (Rupiah, US$ dlsb), maka daya beli kekayaan Anda tersebut akan terus menurun bersamaan dengan waktu. Bila dalam lima tahun terakhir saja harga beras internasional rata-rata naik dua kali, berarti daya beli uang Anda terhadap beras turun tinggal separuhnya – maka bisa Anda bayangkan bila lima belas tahun dari sekarang Anda pensiun misalnya – maka saat itu daya beli asset Anda bisa jadi sangat tidak memadai untuk kehidupan saat itu.

Dalam situasi inflasi yang sangat tinggi sekalipun (hyper inflasi), harga barang-barang naik relatif bersamaan – maka nilai tukar benda riil yang satu relatif stabil terhadap benda riil yang lain. Artinya bila asset Anda berupa benda riil yang tidak aus atau rusak, maka daya beli asset Anda tersebut insyallah akan relatif stabil. Salah satu benda riil yang tidak aus/rusak , sangat likuid dan statitisk daya belinya terbukti sepanjang zaman adalah Emas atau Dinar.


Emas atau Dinar terbukti memiliki daya beli relatif stabil sepanjang lebih dari 1, 400 tahun; bukan hanya untuk membeli kambing 1 Dinar tetap dapat satu ekor kambing sejak zaman Nabi – sampai sekarang; untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras pun insyallah relatif stabil. Bila data dari IRRI tersebut saya sajikan kembali dalam nilai emas; maka Anda akan bisa lihat bahwa harga beras rata-rata berfluktuasi di sekitar 0.7 oz emas/ ton beras. Ada yang di kisaran 1 oz emas/ton beras, namun ada juga yang di 0.5 oz emas/ton beras.

Perbedaan harga karena jenis/kwalitas ini wajar, karena di barang apapun termasuk di kambing pun juga demikian. Kambing-kambing yang kami pelihara di pesantren Darul Muttaqqiin untuk indukan rata-rata 2 Dinar, bahkan pejantan unggul bisa berharga diatas 10 Dinar. Tetapi secara umum di pasar 1 Dinar akan tetap dapat untuk membeli kambing yang cukup baik.

Demikian pula di beras; ada beras Jepang yang sangat mahal, tetapi dengan 0.7 Oz emas atau sekitar 5 Dinar Anda tetap dapat membeli beras 1 ton di sepanjang masa.

Masih ada satu lagi, dalam lima tahun terakhir setelah ditimbang/dinilai dengan emas-pun harga beras tidak menjadi datar – tetapi bergelombang membentuk gelombang sinus; inilah dampak dari naik turunnya harga yang fitrah karena mekanisme pasar supply and demand – bukan lagi faktor inflasi.

Karena inflasi bisa dilawan dengan pertukaran barang yang satu dengan yang lain tanpa menggunakan uang; maka inilah yang melatar belakangi bangsa-bangsa di dunia sedang berlomba menciptakan system barter modern – seperti juga yang sedang kita kaji dalam Indobarter project. Tidak akan mudah memang, tetapi untuk sesuatu problem yang tidak pernah bisa diatasi oleh pemerintah-pemerintah dunia – yaitu problem inflasi; maka hal yang sulit tersebut cukup menantang untuk dicoba – Insyallah.
Thursday, March 18, 2010 | 0 komentar | Read more...
Belajarlah Emas Walau Sampai Negeri China…

Belajarlah Emas Walau Sampai Negeri China…

Written by Muhaimin Iqbal
Monday, 08 March 2010 07:17
Pada dasawarsa pertama kemerdekaan RI, negeri ini pernah memiliki cadangan emas sebesar 248 ton tetapi kemudian cadangan emas ini juga pernah nyaris habis tahun 1971 menjadi tinggal 1.8 ton saja. Ketika Oil Boom tahun 70-an sampai puncaknya 1981, negeri ini alhamdulillah berhasil kembali membangun cadangan emasnya sampai mencapai sekitar 96 ton.

Sayangnya selama seperempat abad kemudian tepatnya sampai 2006, cadangan emas ini tidak berhasil dinaikkan dan bahkan berkurang 24 %-nya pada akhir 2006 sehingga tinggal 73 ton saja. Lihat detilnya di tulisan saya tanggan 28 Desember 2008 dengan judul Emas Dan Kemakmuran Negeri Ini.

Mengapa sampai bangsa ini tidak menganggap penting cadangan emas yang bisa menjadi instrumen untuk membangun ketahanan ekonomi (Yukhsinun) selama lebih dari seperempat abad terakhir ?. Dugaan saya sendiri adalah karena ekonomi kita adalah ekonomi ala IMF banget. Kita tahu dalam system IMF, bahkan mereka melarang negara-negara anggotanya menggunakan emas sebagai rujukan mata uangnya (Article IV, Section 2. B).

Akibat pelarangan ini sampai-sampainya otoritas pasar modal kita beberapa tahun lalu ketika ingin mempromosikan dagangannya menggunakan iklan yang memojokkan emas. Dalam iklan tersebut investasi emas digambarkan sebagai investasinya ibu-ibu yang suka pamer, yang lagi meringis menunjukkan gigi emasnya sambil mengangkat tangannya yang dipenuhi gelang emas.

Inilah gambaran betapa kita ter-makan oleh propaganda anti emas yang di stimulir oleh IMF melalui salah satu pasal di articles of agreement tersebut.

Negara-negara yang tidak termakan propaganda oleh IMF ini melakukan hal yang exactly sebaliknya. Kita bisa belajar dari China misalnya untuk yang terakhir ini.

Ketika kita mengurangi cadangan emas kita sampai 24%-nya; China berhasil meningkatkan cadangan emasnya dari 600-an ton tahun 2003, sampai mencapai 1,054 ton akhir tahun lalu.

Ketika institusi resmi pasar modal kita membuat iklan yang memojokkan orang-orang yang berinvestasi pada emas, pemerintah China bahkan mendorong rakyatnya agar rame-rame membeli emas melalui kampanye besar-besaran yang disiarkan oleh China Central Television. Lebih jauh lagi pemerintah China juga mendirikan Shanghai Gold Exchange untuk mempermudah rakyatnya dalam berinvestasi emas.

Mengapa China melakukan hal yang berlawanan dengan resep umum IMF ini ?, dugaan saya lagi karena China tahu bahwa sesungguhnya emas itulah instrumen yang paling efektif dalam mengamankan kekayaan negeri itu beserta kekayaan rakyatnya.

Diantara negara-negara yang paling drastis penurunan cadangan emasnya, mayoritasnya justru negara yang penduduk mayoritasnya muslim seperti Indonesia. Bangladesh contohnya saat ini tinggal memiliki cadangan emas sebesar 3.5 ton saja; Iraq tinggal 5.9 ton; dan negeri jiran kita kini hanya memiliki 36.4 ton padahal sebelum krisis 1997/1998 mereka memiliki cadangan emas sekitar dua kali dari yang dimilikinya sekarang.


Mungkin Anda bertanya, lho kan memang menimbun emas adalah sesuatu yang sangat dilarang dalam Islam ?. Betul, menimbun emas dan perak dan tidak dinafkahkan di jalan Allah diancam dengan siksa yang sangat pedih. Tetapi disisi lain, emas dan perak juga dijadikan hakim/timbangan yang adil dalam bermuamalah. Bahkan batas kewajiban orang kaya dengan hak orang miskin juga ditentukan dengan emas ini yaitu dalam bentuk nishab zakat yang 20 Dinar.

Artinya membangun cadangan emas baik oleh negara maupun rakyat, tidak harus identik dengan menimbun. Ketika kita berhasil menjadikan emas atau Dinar kita sebagai hakim yang adil dalam menggerakkan ekonomi; maka disitulah ketahanan ekonomi umat dan bangsa ini insyallah akan terbangun.

Misi untuk menjadikan emas/Dinar sebagai penggerak sector riil seperti yang pernah saya tulis dalam tulisan tanggal 25 November 2009 lalu misalnya, adalah salah satu upaya kecil yang bisa kita lakukan untuk membangun ketahanan ekonomi agar kita tidak mudah terjajah – dan pada saat bersamaan kita juga terlibat langsung dalam mempercepat putaran ekonomi.

Enam bulan sejak tulisan tersebut kita luncurkan, kini produk-produk solusi pembiayaan berbasis emas/Dinar benar-benar telah dapat ditangani dengan baik oleh GeraiDinar beserta mitra-mitranya. Semoga Allah selalu menunjuki kita jalanNya. Amin.
Tuesday, March 09, 2010 | 0 komentar | Read more...
Ketika IMF menyeru untuk meninggalkan dolar ….

Ketika IMF menyeru untuk meninggalkan dolar ….

Tulisan ini masih menyambung tulisan sebelumnya yaitu ajakan IMF untuk meninggalkan dolar. Dari Koran Republika kemaren (3 Maret 2010) terdapat judul Diversifikasi Cadangan Devisa. Dari tulisan tersebut disebutkan bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) kian berani memprovokasi anggotanya untuk mulai meninggalkan pemakaian dolar AS dalam cadangan devisa di negara masing-masing. Diakui dolar dianggap tak bisa lagi menjadi andalan untuk menjaga kestabilan nilai tukar uang dunia.

Seruan IMF ini dinilai sebagai langkah yang tepat. Diversifikasi cadangan devisa sangat diperlukan, seperti halnya bagi Indonesia. Seperti yang kita ketahui, cadangan devisa Indonesia masih didominasi dalam bentuk dolar AS, dengan adanya seruan IMF tersebut memang sebaiknya ada penurunan dominasi dolar AS dengan memberi porsi lebih besar untuk emas. Paling tidak 20 persen berupa emas. Jika Indonesia tak lagi mengandalkan dolar AS sebagai cadangan devisa utama, mudah-mudahan ekonomi nasional tak akan lagi hanya ditentukan oleh kuat atau lemahnya mata uang negeri Paman Sam itu. Bagi yang masih gemar menyimpan dolar AS sebagai alat investasi, seruan IMF ini seharusnya sudah jadi peringatan untuk mengalihkan dananya ke bentuk investasi lain seperti dinar/emas. Wa Allahu A’lam.
Wednesday, March 03, 2010 | 0 komentar | Read more...
Dan IMF-pun Mengajak Meninggalkan US$ …?

Dan IMF-pun Mengajak Meninggalkan US$ …?

Written by Muhaimin Iqbal
Tuesday, 02 March 2010 08:14
Ada berita menarik yang bisa Anda baca pada harian Republika yang terbit hari ini (02/03/2010) bahwa IMF menyerukan untuk meninggalkan US$. Berita ini sendiri tentu saja valid karena merujuk pernyataan Dominique Strauss-Kahn, the head of the International Monetary Fund pada jum’at pekan lalu.

Bukannya saya lebih tahu atau lebih pinter dari pimpinan tertinggi IMF tersebut; namun kalau Anda baca tulisan saya hampir 6 bulan lalu dengan judul Tinggalkan Dollar Selagi Sempat , maka Anda akan tahu bahwa seruan atau wacana yang dilontarkan oleh orang nomor 1 di IMF ini adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan dan tidak akan mengejutkan Anda.

Masalahnya yang perlu diwaspadai oleh umat dan juga bangsa-bangsa lain di dunia adalah – ada apa dibalik pernyataan ini. Mengapa baru sekarang wacana mengganti US$ dimunculkan ?. Dan apa pengganti US$ yang mereka pikirkan ?.

Saya mencoba menduga-duga apa kira-kira jawaban atas dua pertanyaan tersebut diatas. Mengenai mengapa baru sekarang wacana ini dimunculkan; dugaan saya karena mereka (para petinggi IMF) juga tahu kalau US$ tidak akan survive dalam waktu yang lebih lama lagi – wacana ini dimunculkan untuk semacam sosialisasi ke dunia akan kondisi yang sangat mungkin akan terjadi.

Nampaknya mereka ingin memperbaiki sejarah kegagalan IMF pertama, ketika terjadi kejutan Nixon Shock Agustus 1971 – dimana secara sepihak dan mendadak –Nixon mengguncang Dunia dengan meninggalkan emas sebagai rujukan mata uang Dollar-nya. Kali ini mereka ingin masyarakat dunia tahu dulu – bahwa Dollar berkemungkinan gagal (lagi) dan dunia tidak akan bisa mengandalkannya.

Lantas mengapa mereka ‘berbaik hati’ memberi isyarat pada dunia bahwa US$ akan gagal ?; sederhana – karena mereka juga masih ingin (tetap) memimpin dunia dengan aturannya. Ingat ketika IMF gagal pertama dengan kejadian Nixon Shock Agustus 1971; penggantinya tetap IMF juga hanya ‘undang-undang’-nya yang berganti dari Breton Woods Agreement (1945) menjadi Article of Agreement of IMF yang ditanda tangani di Smithsonian Institute – December 1971. Dari lokasi penanda tangananan ini saja sebenarnya umat Islam yang cerdas sudah harus tahu siapa dibelakang mereka ini dan untuk kepentingan siapa program-program mereka dibuat.

Pertanyaan kedua mengenai apa pengganti US$ yang mereka pikirkan ?. terungkap dari pernyataan Dominique bahwa pengganti US$ sebagai reserve currency yang akan datang adalah “similar to but distinctly different from the IMF's special drawing rights, or SDRs”.

SDR adalah reserve asset yang diciptakan oleh IMF tahun 1969; awalnya nilai 1 SDR setara dengan 0.888671 gram emas – yang seharusnya saat itu juga bernilai 1 US$. Setelah kejadian Nixon Shock tersebut diatas, ‘uang’ SDR yang tadinya setara emas tersebut-pun berganti menjadi setara dengan sekeranjang mata uang - mata uang kuat dunia. Untuk saat ini isi keranjang tersebut terdiri dari US$ , Poundsterling, Euro dan Yen.

Lantas berapa nilai SDR tersebut sekarang ?, per kemarin (01/03/2010) 1 SDR nilainya setara dengan US$ 1.52771 atau kalau dibelikan emas hanya dapat 0.0425 gram. Jadi uang SDR itu-pun kini nilainya tinggal sekitar 1/20 dari nilai awal ketika diperkenalkan 41 tahun lalu.

Maknanya apa ini semua ?, bila US$ sebagai reserve asset diganti dengan SDR bentuk baru sekalipun (yang dikatakan Dominique sebagai similar but distinctly different dengan SDR yang sekarang) – tetap tidak dapat menjadi reserve asset yang sesungguhnya – karena nilainya juga mengalami keruntuhan sebagaimana sekeranjang mata kertas uang yang digunakan untuk menghitung nilainya.

Kita umat Islam tidak seharusnya menggunakan timbangan yang mereka ciptakan; kita memiliki timbangan yang adil sepanjang masa – yaitu emas, perak, gandum , kurma dan benda-benda riil yang memiliki nilai instrinsik lainnya. Waktunya kita mengikuti petunjuk jalan kita sendiri dan tidak mengikuti mereka memasuki lobang biawak berikutnya. Wa Allahu A’lam.
Monday, March 01, 2010 | 0 komentar | Read more...
Barter Di Ekonomi Modern, Mungkinkah…?

Barter Di Ekonomi Modern, Mungkinkah…?

Written by Muhaimin Iqbal
Monday, 01 March 2010 05:58
Dalam sejarah peradaban manusia; penemuan konsep uang sejak sekitar 5,000 tahun lalu oleh bangsa Mesopotamia (3000 SM) merupakan penemuan yang paling penting untuk mempermudah terjadinya perdagangan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain.

‘Uang’ Shekel yang diperkenalkan zaman itu adalah setara berat 180 butir gandum untuk benda-benda yang dianggap berharga seperti perak, perunggu, tembaga dlsb. Tercatat dalam sejarah 13 Abad kemudian (1760 SM) bahkan uang juga mulai secara resmi masuk dalam system hukum yang dikenal dengan Hukum Hammurabi - karena diperkenalkan oleh Raja ke 6 dari bangsa Babylonia yang bernama Hammurabi.

Sebelum uang dikenal, perdagangan antar umat manusia mengandalkan sistem barter. Karena barter saat itu hanya dilakukan antar dua belah pihak yang secara kebetulan saling membutuhkan barang atau jasa pihak lain, maka perdagangan tentu sulit untuk terjadi secara aktif. Hambatan perdagangan ini adalah karena kondisi yang disebut coincidence of wants (kebutuhan yang secara kebetulan saling sesuai) sebagai prasyarat terjadinya barter – tidak mudah terpenuhi.

Kemudahan yang difasilitasi oleh adanya konsep uang inilah yang kemudian selama beribu tahun kemudian – hingga kini – menjadi mesin penggerak perdagangan yang utama. Dalam perdagangan yang menggunakan konsep uang, tidak harus lagi ada kondisi coincidence of wants.

Hanya saja dalam perkembangannya, manusia modern yang kelewat tergantung pada uang – kemudian menjadikan uang bukan semata sebagai alat tukar dalam perdagangan. Sejak manusia modern menggunakan uang kertas yang semakin canggih; bahkan sekarang uang kertas-nya pun tidak harus dicetak lagi – cukup di ketikkan dalam angka-angka komputer di bank sentral yang disebut quantitative easing misalnya, selain sebagai solusi uang juga dapat menjadi musibah bagi sesama.

Uang dapat menjadi satu alat untuk menjajah satu bangsa oleh bangsa lain; uang juga dapat menjadi alat yang efektif bagi penguasa untuk menarik ‘pajak’ secara tersembunyi kepada seluruh rakyat tanpa kecuali melalui apa yang disebut inflasi. Ketergantungan kepada uang juga dapat membuat sebagian manusia menjadi sangat miskin karena ulah sebagian yang lain – ingat apa yang kita alami di Indonesia selama puncak krisis tahun 1997-1998,

Lantas apakah dengan efek samping-efek samping yang saya sebutkan diatas, uang harus ditinggalkan dan kita kembali ke zaman barter seperti sebelum 5000 tahun lalu ?. Tentu jawabannya juga tidak sedemikian ekstrim. Hal-hal positif yang terkait dengan uang (seperti fleksibilitasnya dalam menjembantani kebutuhan antara manusia yang tidak selalu bisa memenuhi syarat coincidence of wants) tetap terus dapat dipakai; pada saat yang bersamaan efek samping-nya harus diminimalisir. Dinar (uang emas) dan Dirham (uang peraklah) yang sebenarnya mampu membuktikan fungsi uang yang sesungguhnya ini selama ribuan tahun – tanpa berbagai efek samping seperti yang kita kenal sekarang.

Di sisi lain seefektif apapun uang dapat berfungsi memfasilitasi perdagangan; konsep barter sesungguhnya juga tetap menjadi konsep perdagangan yang valid sepanjang zaman. Dalilnya adalah Hadits Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi S.A.W bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.”

Karena Islam adalah agama akhir zaman, maka apa-apa yang diajarkan dalam Islam tentu juga valid sampai akhir zaman. Penggalan kalimat terakhir dari Hadits diatas yang berbunyi “…Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai” ini mengisyaratkan kita dapat melakukan barter sampai akhir zaman.

Bukti empiris keberadaan barter di jaman modern inipun pernah saya tulis dalam tulisan sebelumnya yang berjudul “Dinar Equity Exchange…” ; dan bahkan Negara-negara kuat dunia saat ini sedang mempersiapkan sistem barter yang canggih untuk bisa memfasilitasi perdagangan diantara mereka tanpa harus tergantung pada mata uang tertentu, untuk ini lihat tulisan saya lainnya seperti “ China Bersiap Memimpin Perdagangan Dunia…”.

Dua system barter modern yang saya perkenalkan dalam tulisan-tulisan tersebut diatas, keduanya bisa berjalan efektif bila bisa menciptakan kondisi yang ribuan tahun lalu bermasalah yaitu kondisi coincidence of wants.

Dengan teknologi data processing yang bisa bekerja sangat cepat dan murah seperti sekarang ini , maka coincidence of wants ini bisa dipertemukan dari sejumlah besar pihak peserta barter – tidak terbatas pada hanya dua pihak seperti ribuan tahun lalu. Dari sinilah teknik-teknik barter modern yang kemudian disebut multileg exchange atau multileg barter berkembang.

Dengan perkembangan-perkembangan perdagangan modern tersebut; visi gerakan Dinar GeraiDinar tidak hanya terbatas pada menyediakan Dinar yang dibutuhkan oleh masyarakat dan menjadikan Dinar sebagai penggerak sector riil – tetapi kita juga terus melakukan riset dan pengembangan yang terkait dengan perdagangan pada umumnya.

Dalam kaitan dengan kepeloporan dibidang barter modern ini misalnya, GeraiDinar bekerjasama dengan beberapa pihak kini tengah mengkajinya dan menyiapkannya dalam project yang kita sebut IndoBarter Project – agar kita tidak ketinggalan dari China, India, Brasil, Rusia, Jerman dlsb dalam hal perdagangan global kelak yang bisa jadi tidak lagi akan mengandalkan keberadaan system keuangan dunia yang kini semakin rapuh.

Talent- talent terbaik negeri ini dibidang financial, taxation, IT, legal, trading dlsb. silahkan menghubungi kami dengan mengirimkan CV-nya bila tertarik untuk terlibat dalam project Indobarter ini. Hanya yang bener-bener bisa memberikan kontribusi pada project ini yang akan diundang untuk bergabung dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya. Semoga kita bisa belajar walau sampai negeri China untuk hal ini…
Monday, March 01, 2010 | 0 komentar | Read more...
And The Winner Is….?

And The Winner Is….?

Written by Muhaimin Iqbal
Tuesday, 23 February 2010 08:41
Untuk bisa melihat kinerja uang kertas kita dalam perspektif yang lebih luas, pada kesempatan ini saya ingin menyajikan perkembangan harga emas sampai lima tahun terakhir dilihat dari kaca mata uang Rupiah, US$, Euro dan Yen.

Kita gunakan harga emas dalam mata uang masing-masing – karena harga emas inilah alat ukur yang paling universal dan stabil sepanjang zaman. Kita patut bersyukur bahwasanya dalam 6 – 12 bulan terakhir, mata uang kita jauh lebih perkasa dibandingkan dengan tiga mata uang kuat dunia yaitu US$, Euro dan Yen.

Hal ini dapat kita lihat bahwa diantara empat mata uang yang kita observasi daya belinya terhadap emas; dalam 6 – 12 bulan terakhir harga emas dalam Rupiah-lah yang kenaikannya paling rendah. Dalam Rupiah kenaikan harga emas malah minus atau mengalami penurunan selama 12 bulan terakhir.

Meskipun kita dapat berbangga dengan Rupiah kita dalam jangka pendek, namun kita tetap harus mewaspadai daya beli uang kita ini karena dalam jangka menengah 5 tahun saja Rupiah berkinerja paling lemah bila dibandingkan dengan tiga mata uang kuat dunia Yen, US$ dan Euro tersebut diatas. Dalam timbangan emas, harga emas dunia telah mengalami kenaikan 161% selama lima tahun terakhir bila dibeli dengan Rupiah. Sementara bila dibeli dengan Yen, US$ dan Euro masing-masing hanya mengalami kenaikan 125%, 157% dan 150%.

Apa maknanya ini semua ?, karena mata uang merepresentasikan kekuatan ekonomi suatu negara. Maka selama kurun waktu 5 tahun terakhir, Jepang masih paling kuat fundamental ekonominya dibandingkan dengan negara-negara Uni Eropa, Amerika dan Indonesia.

Kita tentu berharap stamina kita yang lagi fit sehingga memiliki ke-unggul-an dalam 6-12 bulan terakhir dibandingkan dengan negara-negara yang secara umum memiliki fundamental ekonomi yang lebih kuat dari kita tersebut – dapat bertahan lama sampai bertahun-tahun mendatang.

Bagaimana kalau kondisi unggul ini tidak bisa bertahan lama ?, ada cara lain untuk mempertahankan hasil jerih payah kita agar tetap memiliki daya beli unggul sepanjang zaman – yaitu emas atau Dinar. Selagi Rupiah perkasa seperti hari-hari ini, harga emas sesungguhnya lagi rendah-rendahnya dalam Rupiah – relatif terhadap mata uang lain di Dunia. Wa Allahu A’lam.
Monday, February 22, 2010 | 0 komentar | Read more...
Emas/Dinar Diantara Uang Kertas Yang Perkasa dan Yang Lunglai…

Emas/Dinar Diantara Uang Kertas Yang Perkasa dan Yang Lunglai…

Written by Muhaimin Iqbal
Wednesday, 17 February 2010 07:19
Meskipun hari-hari ini harga emas fisik di pasaran Indonesia di kisaran Rp 345 ribu/gram tidak bisa dibilang murah, sesungguhnya relatif terhadap harga emas dunia – kita lagi beruntung, harga emas dalam Rupiah lagi murah-murahnya bila dibandingkan dengan harga emas setahun yang lalu.

Bila dalam setahun terakhir harga emas dunia dalam US$ mengalami kenaikan sekitar 19 % dan dalam Euro mengalami kenaikan sekitar 11 %; Dengan uang Rupiah kita yang lagi perkasa – harga emas atau Dinar dalam Rupiah turun 9 %.

Kinerja Rupiah yang tidak biasa, yang keperkasaannya melebihi mata uang-mata uang kuat dunia ini di satu sisi menggembirakan karena tidak hanya kita bisa membeli emas atau Dinar dengan relatif murah; tetapi juga inflasi terhadap barang-barang impor yang mau nggak mau masih kita perlukan menjadi rendah. Saat ini adalah kesempatan yang baik bagi Anda yang mau ganti komputer misalnya, karena komputer juga lagi murah…dlsb.

Di sisi lain kita juga perlu waspada karena bila situasi ini berlangsung dalam waktu yang lama, belum tentu menguntungkan negeri ini. Konsumsi barang impor akan meningkat sedangkan ekspor akan kurang dapat bersaing.

Hal lain yang juga perlu diwaspadai adalah ketika Rupiah kembali ke jalurnya semula, yang cenderung berkinerja lebih lemah dari mata uang kuat lainnya di dunia – ada kemungkinan harga emas dalam Rupiah akan melonjak.

Dari data statistik dalam 10 tahun terakhir harga emas dalam Rupiah naik sekitar 406%, sementara dalam US$ hanya naik 294% dan dalam Euro hanya naik 190%. Artinya kinerja Rupiah setahun terakhir yang lebih kuat dari US$ dan Euro, lagi tidak sejalan dengan kinerja jangka panjangnya yang cenderung lebih lemah dari kedua mata uang kuat tersebut.

Ketika Anda berenang melawan arus, maka Anda akan lebih cepat capek karena tenaga Anda terkuras. Demikianlah yang nampaknya terjadi dengan Rupiah setahun terakhir, mudah-mudahan saja dia tidak cepat capek dan berbalik arah – meskipun kita tetap harus waspadai arus balik ini. Wa Allahu A’lam.
Tuesday, February 16, 2010 | 0 komentar | Read more...
Emas Diantara Yang Pesimis dan Optimis…

Emas Diantara Yang Pesimis dan Optimis…

Written by Muhaimin Iqbal
Monday, 15 February 2010 09:16
Hari-hari ini bila Anda rajin mengikuti perkembangan harga emas dunia akan melihat trend tahunan yang tidak biasa. Dalam Rupiah harga emas saat ini lebih rendah sekitar 8.5% dibandingkan dengan harga emas setahun lalu; sebaliknya bila Anda sempat lihat harga emas dunia di Kitco.com – dalam US$ harga emas dunia pagi ini masih 15% lebih tinggi dari harga setahun lalu.

Jadi pertanyaannya adalah apakah harga emas saat ini lagi rendah atau lagi tinggi ?, akan naik atau akan turun ?. Tidak mudah menjawabnya dan bahkan para analis pasar emas dunia-pun berbeda pendapat dalam hal ini. Dalam kaitan harga emas kedepan, saya pisahkan pendapat para analis ini dalam dua golongan – yaitu yang pesimis dan yang optimis (terhadap harga emas).

Yang pesimis pada umumnya melihat emas sebagai komoditi biasa yang harganya naik dan turun sesuai dengan supply dan demand; mereka berpendapat bahwa harga emas dunia saat ini sudah ketinggian dan akan berkecenderungan turun. Bukti yang mereka gunakan adalah kecenderungan menurunnya harga emas yang terjadi dalam dua bulan terakhir.

Setelah sempat mencapai angka diatas US$ 1,200/Oz ; saat ini emas hanya diperdagangkan dikisaran US$ 1,093/Oz. Penyebabnya antara lain adalah economic recovery di Amerika Serikat sebagaimana ditunjukkan oleh pertumbuhan GDP negeri itu Kwartal ke IV 2009 yang mencapai angka yang fantastis 5.7%.

Pada saat ekonomi baik, orang meninggalkan emas sebagai aset penyimpan nilai modal (capital preservation asset) dan menginvestasikannya kedalam bentuk investasi yang berpotensi memberikan hasil lebih. Maka sejalan dengan proses economic recovery di Amerika yang bisa berlangsung sampai 2012; maka kelompok yang pesimis ini-pun memperkirakan bahwa harga emas akan cenderung turun sampai tahun 2012 – yang saat itu diperkirakannya harga emas hanya akan berada dikisaran US$ 750/Oz.


Kelompok yang optimis melihat data yang sama justru dari sudut pandang yang sebaliknya. Recovery saat ini lebih banyak didorong oleh serangkaian bailout yang berarti pencetakan uang kertas lebih dari biasanya. Supply uang kertas yang dipaksakan ini pada akhirnya akan mengancurkan daya beli uang kertas itu sendiri. Bila daya beli uang kertas jatuh, maka semua barang akan melonjak nilainya – dan tentu saja juga harga emas.

Salah satu pendukung teori ini adalah Marc Faber seperti yang diungkap di www.commodityonline.com dua hari lalu. Fund Manager kondang yang berasal dari Swiss ini dalam forum resmi Russia’s Troika Dialog pekan lalu menyatakan “Saya yakin bahwa pemerintahan Amerika akan bangkrut, mungkin tidak besuk, tetapi sebelum ini terjadi mereka akan mencetak uang sangat banyak – dan Anda akan menghadapi inflasi yang sangat tinggi”.

Karena langkah yang dilakukan oleh Amerika dalam aksi bailout ini juga dilakukan oleh negara-negara lain seperti Inggris dan negara-negara Eropa Barat lainnya; maka praktis ini akan melanda dunia finansial secara keseluruhan. Langkah apa yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi ini ?; Marc Faber merumuskannya dengan sederhana : “satu hal yang tidak akan pernah saya lakukan adalah menjual emas saya”.

Lantas seberapa tinggi harga emas akan naik menurut golongan yang optimis ini ?; perkiraan mereka beberapa kali saya kutip di situs ini, antara lain tanggal 20 November 2009 dengan judul Exchange Rate Chaos. Menurut kelompok ini harga emas akan mencapai US$ 2,000 dalam waktu yang tidak terlalu lama dan tidak dengan susah payah.

Lantas bagaimana saya sendiri berpendapat ?; saya cenderung kependapat yang kedua. Meskipun pada saat yang bersamaan saya selalu mengingatkan bahwa dalam jangka pendek harga emas akan terus bergejolak. Bahkan kepada para calon pembeli pemula; saya selalu katakan untuk transaparan dan fair memberikan gambaran prospek Dinar ini. Memang kita optimis Dinar akan berkecenderungan naik dalam jangka panjang; tetapi jalannya akan bergelombang seperti grafik-grafik bulanan, tahunan dan sepuluh tahunan yang ada di situs ini. Jadi dalam jangka pendek harga Dinar tidak hanya bisa naik, bisa juga turun. Wa Allahu A’lam.
Sunday, February 14, 2010 | 0 komentar | Read more...