Lubang Kebahagiaan…

Lubang Kebahagiaan…

Oleh Muhaimin Iqbal
Rabu, 04 January 2012 06:42

Di negeri China komunis beberapa puluh tahun lalu, seorang aktivis bisa dipenjara hanya karena tulisan dan pemikirannya yang dipandang tidak sejalan dengan komunisme. Salah yang di penjara ini ditaruh dalam sel terpisah dari yang lain, berdekatan dengan sel seorang pembunuh dan penjahat besar – karena di negeri itu dahulu pemikiran bebas dipandang sama berbahayanya dengan pemikiran jahat. Beruntung si aktivis, ada sedikit keretakan di tembok sel yang dia tempati – sehingga dari lubang yang sangat sempit ini dia bisa mengintip keluar ke dunia bebas dari waktu ke waktu.



Setiap kali si aktivis habis mengintip keluar, si penjahat di sel sampingnya selalu bertanya – apa yang dia lihat. Karena si aktivis ini juga seorang penulis, dia bisa bercerita sangat detil tentang apa yang dilihat-nya. Ketika dia bercerita indahnya sawah, sungai, burung-burung yang terbang bebas – si penjahat memejamkan matanya , membayangkan dirinya menikmati alam bebas yang digambarkan oleh si aktivis.



Ketika si aktivis bercerita di kejauhan ada parade tentara yang baris berbaris di lapangan, si penjahat memejamkan matanya, menikmatinya seolah-olah dia lagi menjadi komandan dari tentara-tentara tersebut. Demikianlah kehidupan dua orang yang bertetangga dalam penjara ini, hari berganti tahun – mereka berdua tidak punya harapan untuk dibebaskan entah kapan – jadi kebahagiaan keduanya hanya diperoleh melalui cara tersebut – si aktivis ‘mengintip’ dunia melalui lubang kebahagiaannya, si penjahat ikut berbahagia meskipun hanya membayangkannya.



Dasar otak jahat si penjahat, setelah sekian tahun berlalu – munculah ide jahatnya, setan jahat membisikannya dengan pertanyaan yang menantang “mengapa selama ini hanya si aktivis yang bisa mengintip dunia luar sedangkan dia hanya bisa membayangkannya ?. Mengapa tidak dia sendiri yang mengintipnya ?”. Maka kebiasaan lama dia sebagai seorang pembunuh muncul, entah dari mana dia bisa melemparkan racun ke sel sebelahnya tepat masuk ke tempat minum si aktivis ketika dia lagi tidur.



Si aktivis meninggal keesokan harinya dan mayatnya dibawa keluar oleh sipir penjara. Sebelum sel yang kosong ini diisi lagi dengan narapidana lainnya, si penjahat minta ke sipir untuk dipindahkan ke sel tersebut dan si sipir setuju.



Dengan girang dia memasuki sel-nya yang baru karena berharap bisa mulai mengintip dunia luar. Setelah sel dikunci dan sipir meninggalkannya sendirian, mulailah dia beraksi untuk mengintip dunia luar. Namun bukan kepalang kagetnya ketika dia mengintip melalui lubang yang sama yang selalu dilakukan oleh si aktivis, yang dilihatnya adalah kuburan tempat memakamkan narapidana-narapidana – yang pada meninggal – karena saking lamanya dipenjara !.



Setiap kali dia mencoba mengintip, selalu yang nampak di matanya adalah kuburan dan kuburan – dia tidak bisa melihat apa yang ada di kejauhan. Padahal ketika si aktivis mengintip, sebenarnya dia juga melihat kuburan yang sama pas di depan matanya, tetapi fokus penglihatannya bukan pada kuburan tersebut – dia fokuskan pada pemandangan di kejauhan, dimana dia bisa melihat sawah, sungai, burung-burung dan bahkan tentara yang lagi parade.



Karena setiap saat pikiran si penjahat selalu dihantui oleh kuburan yang dia lihat dari lubang selnya, dia tidak bisa bertahan dan meninggal tidak seberapa lama justru setelah dipindahkan ke sel yang diidam-idamkannya.



Ada dua pelajaran dari cerita ini. Pertama adalah tentang syirkah atau kerjasama, kita sering melihat peran orang lain lebih enak sehingga timbul niatan untuk mengambilnya – bahkan kadang dengan cara yang tidak baik. Padahal kalau kita diberi peran yang kita inginkan dari orang lain tersebut, belum tentu kita bisa melaksanakan sebaik yang orang lain laksanakan.



Demikian pula dalam kerjasama membangun usaha, rata-rata kerjasama usaha buyar ditengah jalan. Bila usaha berjalan baik, menghasilkan untung yang banyak – buyarnya karena rebutan harta, sebaliknya bila usaha tidak berjalan baik dan merugi – buyarnya karena saling menyalahkan.



Itulah sebabnya dalam membangun kerjasama dibidang apapun, apakah itu untuk berbisnis, berdakwah, berpolitik, bernegara dlsb, harus dibangun dengan dasar amanah. Allah bersama orang-orang yang bersyirkah, selama semua pihak saling menjaga amanahnya masing-masing, dan Allah akan meninggalkannya ketika ada salah satu pihak yang mulai berkhianat.



Kedua adalah tentang kebahagiaan, kebahagiaan itu tidak datang lewat pintu rumah atau lubang untuk mengintip – tetapi dia datang melalui pintu hati. Dengan pemandangan yang sebenarnya persis sama, si aktivis memfokuskan matanya untuk melihat yang indah-indah – sedangkan si penjahat hanya bisa fokus pada yang buruk-buruk.



Cara melatih hati untuk menikmati kebahagiaan-pun sama dengan cara melatih mata untuk fokus penglihatan. Bayangkan sekarang apa yang sebenarnya ada diluar sel penjara-nya dua orang tersebut diatas. Pas mepet dengan sel adalah kuburan, setelah itu ada sawah dan sungai, dan dikejauhan ada lapangan tempat tentara berparade. Si aktivis bisa melihat semuanya, sehingga dia bisa menikmati kebahagiaan melalui lubang kebahagiaannya.



Tetapi tidak demikian bagi si penjahat, dia hanya bisa melihat kuburan yang pas ada di depan matanya. Dia tidak bisa melihat sawah dan sungai apalagi lapangan di kejauhan. Lubang yang sama yang telah memberi si aktivis kebahagiaan – dan sebenarnya juga menularkannya ke si penjahat untuk beberapa tahun, sebelum serakahnya kambuh – ternyata menimbulkan kesengsaraan ketika dia ingin melihatnya sendiri.



Jadi bila Anda melihat hal-hal yang buruk di hadapan Anda, coba ubah fokus mata hati Anda untuk bisa melihat di kejauhan, siapa tahu di kejauhan sana ada berbagai keindahan yang bisa Anda nikmati. InsyaAllah.
Thursday, January 19, 2012 | 0 komentar | Read more...
Déjà vu Harga Dinar, How Low Can You Go ?

Déjà vu Harga Dinar, How Low Can You Go ?



Oleh Muhaimin Iqbal
Jum'at, 30 December 2011 06:55

Tanpa terasa system kita sudah me-record secara kontinyu pergerakan harga Dinar selama empat tahun ini sehingga up and down-nya sudah cukup kita alami. Meskipun lebih banyak up-nya, pada tulisan ini saya akan menekankan waktu-waktu dimana harga Dinar lagi down seperti saat ini – untuk mengingatkan kita semua agar tidak menggunakan fluktuasi harga emas sebagai media spekulasi. Ada setidaknya 4 kali dalam 4 tahun terakhir ini saya menulis dengan judul “…How Low Can You Go ?”, karena ini kurang lebih mewakili pertanyaan-pertanyaan dari para pembaca ketika harga lagi rendah.



Tulisan pertama di blog lama saya tanggal 15 Agustus 2008 ketika harga Dinar jatuh ke angka Rp 1,123,000,- turun 13.5 % dari harga tertinggi 5 bulan sebelumnya pada angka Rp 1,299,000,- tanggal 17 Maret 2008. Tulisan kedua tanggal 7 April 2009 ketika harga Dinar berada pada angka Rp 1,436,000, atau turun 12 % dari angka tertinggi kurang dari dua bulan sebelumnya yang sudah sempat mencapai Rp 1,640,000,- tanggal 21 Februari 2009.



Tulisan ketiga adalah tanggal 26 September 2011 ketika harga Dinar jatuh ke angka Rp 2,152,233 atau turun 10 % dari angka tertinggi hanya sepekan sebelumnya pada harga Rp 2,396,735,-. Tulisan keempat adalah tulisan ini pada saat harga berada pada angka Rp 2,142,000,- atau lebih rendah 11 % dari angka tertinggi 4 bulan sebelumnya pada angka Rp 2,396,734 tanggal 19 September 2011.



Harga Dinar Emas 2007-2011

Harga Dinar Emas 2007-2011




Tiga tulisan sebelumnya (keempat dengan yang ini) memang saya tulis dengan judul yang sama karena memang nuansa dan waktunya sama, yaitu ketika pembaca banyak sekali yang menanyakan “apakah masih bisa turun lagi, seberapa rendah, dlsb.” Ini adalah peristiwa yang dalam bahasa Perancis disebut déjà vu atau secara harfiah artinya ‘pernah melihat sebelumnya…’.



Setidaknya melalui tiga tulisan sebelumnya kita pernah melihat harga emas jatuh secara significant, tetapi kemudian setelah itu kembali ke trend jangka panjangnya yaitu naik. Ketika jangka pendek harga emas bisa turun sampai belasan persen hanya dalam beberapa bulan saja, rata-rata kenaikannya masih berada di sekitar angka 25% per tahun dalam 4 tahun terakhir. Atau secara kumulatif harga Dinar telah naik sekitar 142 % sejak system kami mencatat harganya secara kontinyu seperti yang tertuang dalam grafik diatas.



Banyak pelajaran sebenarnya dari grafik tersebut diatas, tetapi intinya jangan panik oleh penurunan harga Dinar atau emas jangka pendek. Apakah ini berarti bahwa rezim harga emas yang lagi rendah sekarang akan kembali naik seperti dalam tiga peristiwa sebelumnya ? Wa Allahu A’lam, tidak ada yang bisa menjamin. Tetapi peluang ke arah sana tentu besar – meskipun bisa jadi dalam waktu dekat turun dahulu sebelum kembali ke trend jangka panjangnya yang naik.



Lantas seberapa besar peluang naiknya dan sampai berapa ? ilustrasi grafik dibawah dapat memberikan gambaran kasarnya.



Trend Harga Dinar Emas 2007-2011

Trend Harga Dinar Emas 2007-2011




Dengan peluang di atas 90%, berdasarkan statistik 4 tahun terakhir trend harga Dinar mengikuti persamaan polynomial y (emas)=008x2 - 0.2164x + 279425. Dengan formula ini harga Dinar empat tahun ke depan akan berada di kisaran Rp 2,310,000 (2012) ; Rp 2,950,000 (2013) ; Rp 3,740,000 (2014) dan Rp 4,680,000 (2015). Angka-angka ini sekali lagi menguatkan bahwa emas atau Dinar bukan ‘mainan’ jangka pendek, bagi Anda yang sudah mengenal Dinar dalam empat tahun terakhir pasti sudah bisa merasakannya.



Tentu saja angka-angka ini hanya perkiraan statistik semata, yaitu bisa benar bila seluruh faktor-faktor yang mempengaruhi harga emas 4 tahun terakhir akan berulang dalam 4 tahun kedepan. Hasilnya akan berbeda bila faktor lingkungan yang mempengaruhinya juga berbeda. Wa Allahu A’lam.
Wednesday, January 18, 2012 | 0 komentar | Read more...
Bakyak Pak Kyai Dan Tukang Nasi Pecel…

Bakyak Pak Kyai Dan Tukang Nasi Pecel…

Oleh Muhaimin Iqbal
Senin, 26 December 2011 08:06

Seorang kyai tua tinggal beberapa ratus meter dari surau-nya yang selalu sepi. Dia selalu bangun satu jam menjelang subuh dan kemudian berjalan ke surau. Di keheningan malam desa, bakyak (alas kaki dari kayu) Pak Kyai ini menjadi pertanda awal pagi bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang jalan antara rumah Pak Kyai dengan suraunya. Begitu mendengar suara teklek – teklek –teklek , masyarakat yang punya urusan pagi itu segera bangun untuk memulai urusannya.



Ada yang berangkat ke pasar pagi-pagi di hari pasaran, ada yang mulai masak untuk membuka warungnya dlsb – namun tetap sangat sedikit yang kemudian mengikuti Pak Kyai ke surau. Hanya beberapa orang saja yang setia bermakmum di belakangnya ketika sholat subuh ditegakkan.



Mengamati perilaku masyarakat yang dilaluinya, dalam setiap kesempatan Pak Kyai ini ingin selalu mendakwahi mereka. Maka suatu pagi sepulang sholat subuh dia ingin mampir ke si mbok tukang nasi pecel dan suaminya yang tidak pernah dilihatnya ke surau.



Setelah selesai makan nasi pecel dari warung tersebut Pak Kyai mulai dengan strategi dakwahnya, dia bertanya ke si embok : “bapake teng pundi, kok mboten ketingal ?” (bapak kemana kok tidak kelihatan) ; dijawab oleh si embok : “Wonten wingking, mbantu nggodok toya” (di belakang, membantu masak air).



Lalu Pak Kyai melanjutkan dialognya dalam bahasa jawab tetapi langsung saya artikan yang kurang lebih begini : “Setiap saya berjalan ke surau, saya melihat warung ini masih tutup, dan ketika saya pulang warung ini sudah selalu buka…, apa yang membuatnya demikian ?”. Si embok menjawab : “Iya Pak Kyai, kami terbangun setiap mendengar bakyak Pak Kyai – untuk terus mulai masak dan membuka warung ini…”.



Pak Kyai yang sekaligus merangkap muadzin ini, mulai menangkap peluang untuk mendakwahinya , dia bertanya : “lho, kenapa yang di dengar kok suara bakyak saya – bukan ajakan saya untuk sholat di surau/masjid (suara adzan ) ?”. Dengan agak malu-malu si embok berusaha menjelaskan alasan suaminya tidak ke surau : “Anu Pak Kyai, suara bakyak Pak Kyai bisa membangunkan kami, terus kami dapat mulai buka warung dan langsung dapat uang untuk makan sekeluarga. Ajakan sholat (adzan) Pak Kyai mengajak kami ke surau lha terus yang mencarikan uang kami siapa ?”.



Sambil pingin meyakinkan Pak Kyai dengan argumennya, si embok balik bertanya : “Gusti Allah niku nopo estu enten nggih Pak Kyai ?, kok kulo nyuwon nopo-nopo dereng diparingi, dadosi tasih kedah kerjo ngaten niki…!” (Allah itu apa bener-bener ada sih Pak Kyai, kok saya minta apa saja belum ada yang diberi, jadi masih harus kerja seperti ini…!).



Mendapat pertanyaan yang seolah cerdas ini Pak Kyai desa ini tidak mau langsung menjawabnya, pertama karena pertanyaan ini tidak diantisipasinya – dia tidak langsung siap jawabannya saat itu, kedua dia tidak ingin berargumen dengan target dakwahnya pagi ini.



Setelah selesai makan nasi pecel Pak Kyai beranjak pergi , di tengah jalan dilihatnya ada gelandangan dengan badan dan baju yang kotor, rambut berantakan dan selalu menengadahkan tangan minta-minta pada orang yang lalu lalang dengan kalimat standarnya yang memelas “…telung dinten dereng mangan…” (tiga hari belum makan).



Pak Kyai merasa dapat ilham langsung balik ke warung nasi pecel tadi, dengan bergegas dia menyampaikan ke si embok yang tadi melayani dia : “Mbok, mbok, sampeyan lihat tukang ngemis disana itu…?”, si embok menjawabnya : “ Oh Iya pak Kyai, memang pekerjaannya setiap hari disitu ya begitu…”.



Pak Kyai melanjutkan : “Lantas mengapa embok tidak memberinya makan nasi pecel ini ?, nasi pecel disini kan banyak sekali – dia tidak perlu bekerja dengan mengemis setiap hari kalau setiap dia datang ke warung ini embok langsung beri dia makan…!”.



Si mbok kaget dengan saran Pak Kyai ini, dia menjawab : “Pak Kyai ini bagaimana sih !, nasi pecel yang ada di warung ini kan untuk dijual, kok kami malah disuruh memberikan begitu saja ke si pengemis…, mana bisa dia membayarnya ?”.



‘”Ini Dia” pikir Pak Kyai , dia langsung menyampaikan kalimat dakwahnya yang jitu ke si embok : “begitulah Allah mbok, Dia punya apa saja yang embok dan keluarga inginkan …, tetapi mana mau Dia memberikan semua keinginan ke mbok, lha wong mbok nggak mampu membayarnya kok…!”.



Merasa logika Pak Kyai mengenainya, dia mulai tertarik : “Lha terus bagaimana Pak Kyai ? bagaimana kami bisa ‘membeli’ kepada Allah apa yang kami inginkan…”. Dengan senang Pak Kyai menjawab : “Dengan mentaatiNya mbok, mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya…, ya antara lain kalau Dia memanggil untuk sholat ke surau/masjid – penuhilah panggilanNya, terutama untuk suamimu – karena itu wajib bagi laki-laki”.



Begitulah kita semua, seperti keluarga tukang pecel tadi. Kita sibuk dengan urusan kita, sehingga ketika Allah memanggil (untuk sholat, zakat, menyantuni fakir-miskin, berhijrah untuk kebaikan, berjihad dst…) kita tidak segera meresponnya, tetapi ketika kita berdoa minta kepadaNya – mau kita segera diberiNya – mana bisa begitu ?. Wa Allahu A’lam.
Wednesday, January 18, 2012 | 0 komentar | Read more...
The Knowing-Doing Gap…

The Knowing-Doing Gap…

Oleh Muhaimin Iqbal
Rabu, 21 December 2011 06:54

Tahun 1995 saya bersama 3 orang eksekutif muda lainnya membentuk satu team mengikuti suatu Business Game Competition - yang diselenggarakan oleh IBM. Team tersebut ternyata tangguh karena mampu memenangi kompetisi di Indonesia, dan atas kemenangan ini IBM mensponsorinya untuk mewakili delegasi Indonesia dalam kompetisi yang sama tingkat Asia Pacific di Sydney. Team kami-pun menang lagi dan menjadi juara pertama tingkat Asia Pacific. Dengan PD yang luar biasa karena prestasi Business Game Competition tingkat Asia Pacific, sebagian dari anggota team ini ada yang langsung melompat meninggalkan perusahaannya dan memulai business sendiri. Sebagian yang lain menyusul beberapa tahun kemudian. Sukseskah ?, ternyata tidak dengan mudah !, Mengapa ?.



Business game adalah tentang pengetahuan dan simulasi usaha yang meniru dunia penerbangan dalam melatih pilot-pilotnya. Sebelum pilot-pilot diijinkan menerbangkan jenis pesawat yang baru, mereka harus mencobanya dahulu di simulator – untuk mengenalkannya dengan segala macam fungsi peralatan dan pengaruh atas tindakan pilot pada perjalanan pesawat. Simulator berfungsi mengasah ketrampilan pilot dan keakuratan keputusannya, sebelum dia benar-benar menerbangkan pesawat yang sesungguhnya.



Karena efektivitas penggunaan simulator untuk para pilot tersebut, maka kemudian dunia business sejak beberapa dekade lalu juga meniru menggunakan simulator untuk melatih para pengelolanya. Maraknya pendekatan business simulation ini di decade 90-an-lah, yang kemudian membuat perusahaan sekelas IBM-pun mensponsori kompetisi di bidang ini sampai setingkat Asia Pacific.



Tetapi permasalahan di dunia usaha ternyata jauh lebih komplek ketimbang menerbangkan pesawat, variable-nya terlalu banyak sehingga hanya sebagian kecil saja business environment factors yang bisa dimasukkan dalam variable simulator. Walhasil, sekelas juara internasional di business simulation-pun tidak serta merta bisa menjadi juara di dunia bisnis yang nyata.



Berbagai materi case study dan simulasi yang banyak dipakai di sekolah-sekolah business baru mengantar para lulusannya untuk ‘tahu’, sedangkan ‘tahu’ sangat berbeda dengan ‘melaksanakan’ - nya. Itu pulalah sebabnya mengapa hampir setiap institusi pemerintahan negeri ini memiliki PUSDIKLAT (Pusat Pendidikan dan Latihan) dengan berbagai namanya sendiri-sendiri, tetapi kok negeri ini tetap juga belum unggul ?, kita masih di urutan ke 121 dari sisi kemudahan usaha misalnya ?, masih di urutan 118 dalam hal kemakmuran bila diukur dari GDP ?.



Inilah dampak dari berbagai sekolah business dan berbagai DIKLAT yang hanya mengantar lulusan atau pesertanya untuk ‘tahu’ tetapi tidak bisa membuat mereka ‘melaksanakan’ apa yang mereka tahu. Jurang pemisah antara ‘tahu’ dan ‘melaksanakan’ ini pernah ditulis secara detil dalam satu buku yang berjudul The Knowing-Doing Gap ( Jeffrey Pfeffer & Robert I. Sutton, Harvard Business School Press , 2000).



Untuk bisa kontribusi maksimal terhadap perusahaan atau institusinya, seorang pegawai tidak cukup hanya dilatih untuk ‘tahu’ , tetapi dia juga harus dilatih untuk bisa ‘melaksanakan’ apa yang dia tahu. DIKLAT-DIKLAT akan efektif bila mereka tidak hanya membuat peserta-nya ‘tahu’ , tetapi juga bisa membuat pesertanya ‘melaksanakan’ apa yang mereka tahu.



Para (calon) entrepreneur-pun demikian. Tidak kurang banyaknya buku-buku dan pelatihan entrepreneurship di negeri ini, tetapi mayoritasnya hanya mengantar orang untuk ‘tahu’ dan belum bisa mengantarkannya untuk ‘melaksanakan’. Bahkan ironinya adalah institusi yang diserahi untuk membina para (calon) entrepreneur tersebut kebanyakannya juga hanya sekedar ‘tahu’ tetapi sama sekali belum pernah ‘melaksanakan’-nya.



Dalam sebuah bedah buku entrepreneurship saya “Kambing Putih Bukan Kambing Hitam” bersama para (calon) entrepreneur muda, pihak penyelenggara berhasil menghadirkan pejabat eselon 2 (direktur) di institusi terkait. Tetapi karena si pejabat yang usianya sudah menjelang pensiun ini seumur-umur belum pernah ber-bisnis, maka sambutannya begitu negative tentang bisnis – jadi dia bukannya meng-encourage peserta malah men-discourage-nya. Pejabat yang bergelar Doktor ini tentu tahu segala aspek usaha karena pekerjaan dan pendidikannya, tetapi masalahnya dia sendiri belum pernah ‘melaksanakan’-nya.



Lantas apa yang diperlukan untuk sukses itu sebenarnya ?. Salah satu caranya ya itu tadi, melalui ‘melaksanakan’ yang kita ‘tahu’ atau dalam bahasa buku tersebut diatas adalah mengeliminir atau setidaknya meminimisasi The Knowing-Doing Gap. Sedangkan The Knowing –Doing Gap ini otomatis tidak ada bila kita ‘tahu’ karena ‘melaksanakan’ –nya atau yang dikenal dengan learning by doing.



Adapun team kami yang tidak langsung sukses menjadi entrepreneur setelah menjadi juara Asia Pacific Business Game Competition yang saya perkenalkan di awal tulisan ini, sekian tahun kemudian ternyata mereka akhirnya sukses juga dibidang-nya masing-masing. Sukses mereka-pun bukan setelah mereka ‘tahu’ , tetapi setelah mereka sekian tahun ‘melaksanakan’-nya !.



Jadi bila Anda bener-bener ingin sukses dibidang Anda, salah satu cara sederhananya adalah mulai dengan ‘melaksanakan’ apa yang Anda tahu. InsyaAllah.
Monday, January 16, 2012 | 0 komentar | Read more...
Fokus Untuk Menjadi Batu Bata Terbaik…

Fokus Untuk Menjadi Batu Bata Terbaik…

Oleh Muhaimin Iqbal
Selasa, 20 December 2011 07:33

Di kampung saya sangat sedikit uang berputar, tetapi kehidupan berjalan normal. Rata-rata masyarakat bisa hidup dari hasil tegalan atau sawahnya dan juga memiliki rumah. Waktu kecil saya sering menyaksikan proses bagaimana warga desa yang miskin tersebut bisa membangun rumah, mereka memulainya dengan membuat sendiri batu bata yang dibutuhkannya. Terkadang batu bata ini harus ditumpuk dan menunggu waktu yang lama – menunggu kelengkapan lainnya, sebelum akhirnya bisa diwujudkan menjadi rumah yang indah untuk ukuran di kampung.



Membangun usaha, membangun masyarakat atau umat sampai membangun negara sekalipun juga seperti orang miskin membangun rumah di kampung tersebut, yaitu mulai dari mempersiapkan batu batanya. Bila telah cukup batu bata yang baik, maka tinggal menunggu waktu saja akan terbangun bangunan yang indah. Sebaliknya, bila kita tidak mempersiapkan batu bata yang baik – sebuah bangunan mungkin saja bisa kita bangun – tetapi kita juga harus bersiap menyaksikan kehancurannya.



Bila ‘bangunan’ negeri ini nampak compang-camping, terkenal akan korupsinya, di eksploitasi sumber daya alamnya oleh orang asing, dibanjiri pasarnya dengan produk yang serba import – ya sesungguhnya kita tidak bisa hanya menyalahkan para pemimpin kita. Kita juga perlu introspeksi – jangan-jangan kita juga belum bisa menjadi batu bata yang baik bagi ‘bangunan’ negeri ini.



Dalam hal ‘bangunan’ umat Islam ini juga demikian, kita yang mayoritas di negeri ini masih sering diperlakukan seperti minoritas, dikambing hitamkan, ditakut-takuti, dianggap ekstremes dlsb. Lagi-lagi kita tidak sepenuhnya bisa menyalahkan pihak lain untuk ini, umat ini sendiri juga harus berbenah diri untuk menjadi batu bata yang terbaik dibidangnya masing-masing.



Nampaknya peran sebagai batu bata inilah yang paling pas , paling doable dan perlu disadari oleh kita semua. Bila sendirian kita atau kelompok kita berpretensi bisa membangun bangunan itu sendiri – kita akan cenderung merasa paling benar, menganggap yang dibangun orang lain salah – padahal kita sendiri juga belum tentu mampu membangunnya – karena tidak cukup batu bata yang baik yang kita miliki.



Peran sebagai batu bata ini pulalah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam : Telah bercerita kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah bercerita kepada kami Isma’il bin Ja’far dari ‘Abdullah bin Dinar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah Radliallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Perumpamaanku dan nabi-nabi sebelumku seperti seseorang yang membangun suatu rumah lalu dia membaguskannya dan memperindahnya kecuali ada satu labinah (tempat lubang batu bata yang belum terseslesaikan) yang berada di dinding samping rumah tersebut, lalu manusia mengelilinginya dan terkagum-kagum sambil berkata : ‘ Duh seandainya ada orang yang meletakkan labinah (batu bata) di tempatnya ini’. Beliau bersabda : ‘maka akulah labinah itu dan aku adalah penutup para nabi’”. (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dengan narasi yang berbeda).



Kalau nabi saja membahasakan dirinya sebagai labinah (batu bata)-nya dan bukan bunyaan (bangunan)-nya , lantas apakah diri kita baik sendiri maupun bersama kelompok/golongan/partai dlsb. merasa bisa membangun bangunan umat ini sendiri ?.



Kesadaran bahwa diri kita hanyalah salah satu dari batu bata - batu bata bangunan yang ingin kita bangun, akan membuat kita fokus pada bidang yang kita memiliki competency-nya. Hal ini akan menyadarkan kita, bahwa kita membutuhkan orang lain untuk juga menjadi batu bata terbaik dibidangnya masing-masing.



Maka setelah batu batu- batu bata terbaik tersebut terkumpul, bangunan yang indah itu akan lebih mudah untuk diwujudkan. Bangunan yang bukan hanya manusia bumi yang bisa menikmatinya, tetapi bahkan Allah-pun mencintainya. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (QS 61:4). InsyaAllah.
Sunday, January 15, 2012 | 0 komentar | Read more...
Bagaimana Perjalanan Anda…?

Bagaimana Perjalanan Anda…?

Oleh Muhaimin Iqbal
Senin, 19 December 2011 05:16

Sekian tahun lalu ketika saya masih aktif sebagai eksekutif perusahaan keuangan besar, saya sering sekali melakukan perjalanan kerja ke luar negeri - utamanya ke London. Sopan santun orang Inggris yang terkenal itu tercermin dari sopir yang selalu dikirim mitra kerja saya untuk menjemput di bandara Heathrow. Dengan tubuh yang besar dan berjas rapi – dengan senyumnya yang ramah, kalimat pertama yang selalu diucapkannya adalah “how was your flight sir ?”. Saya tahu ini adalah pertanyaan basa-basi, tetapi saya selalu menjawab dengan serius bahwa saya sungguh menikmati penerbangan saya.



Ini adalah jawaban yang tulus dan bukan basa-basi, karena memang itulah yang terjadi. Setiap kali saya melakukan perjalanan dinas, menempuh penerbangan nyaris sepertiga bumi – pasti karena ada sesuatu yang berat dan serius untuk diselesaikan. Begitu sampai di tempat tujuannya sana – di kota London, beban kerja yang berat tersebut telah menunggu – saya tidak pernah sempat lagi untuk menikmatinya. Begitupun sesampai balik di Jakarta, pekerjaan berat berikutnya juga sudah menunggu – jadi satu-satunya yang bisa saya nikmati adalah ketika tidak bisa diganggu oleh pekerjaan berat selama belasan jam berada di dalam pesawat tadi.



Perjalanan usaha adalah seperti penerbangan tadi, jangan dikira bahwa akan banyak yang bisa Anda nikmati ketika usaha Anda berhasil menjadi besar. Masalah demi masalah akan selalu bermunculan dan tanggung jawab besar silih berganti mendatangi Anda untuk diselesaikan. Lantas apa yang bisa Anda nikmati ?, yang paling mungkin adalah perjalanan membangun usaha Anda tersebut-lah yang bisa Anda nikmati.



Ketika orang mulai meng-appresiasi ide usaha Anda, ketika nasabah-nasabah pertama membeli produk Anda, ketika mitra-mitra usaha merapatkan barisan menjadi team Anda, ketika Anda berhasil menaikkan standar gaji karyawan Anda dan serangkaian hal-hal kecil lain yang Anda temukan dalam perjalanan usaha Anda – itulah yang paling mungkin dinikmati, lebih memungkinkan ketimbang hasil dari usaha itu sendiri nantinya.



Sekuat dan sekeras apapun kita berusaha, hasil itu tetap bukan domain kita untuk menentukannya - itu domain-nya Yang Maha Kuasa di atas sana, domain kita adalah bekerja dan berkarya – maka domain kita inilah yang harusnya bisa kita nikmati.



Sama dengan perjalanan dinas saya diatas, bila saya gagal menikmatinya – maka saya akan tersiksa dalam belasan jam penerbangan yang bisa jadi sangat membosankan. Tetapi sebaliknya bila saya bisa menikmatinya, maka saya akan mendarat dengan bugar dan ketika sopir yang sopan berbasa basi menanyakan bagaimana penerbangan saya – saya bisa menjawabnya dengan tulus bahwa saya sungguh menikmatinya.



Demikian pula ketika Anda merintis usaha Anda, bila Anda tidak bisa menikmatinya – prosesnya bisa sangat menyakitkan ketika orang menolak ide Anda, ketika 3 F (family , friends and fools) tidak memberikan dukungan yang Anda harapkan, ketika tidak kunjung ada (calon) klien yang membeli produk Anda, ketika akhir bulan tidak cukup uang untuk menggaji karyawan Anda dan segudang masalah yang akan Anda temui dalam perjalanan merintis usaha Anda tersebut. Mayoritas (calon) entrepreneur berakhir di death valley karena mereka tidak bisa melalui (menikmati !) perjalanan panjang dalam merintis usaha ini.



Maka salah satu cara untuk mengecek apakah suatu rintisan usaha akan cocok untuk diri Anda atau tidak , adalah dengan menanyakan ke diri Anda sendiri : “Apakah saya akan bisa menikmati perjalanan yang panjang ini ?” , bila Anda yakin bahwa jawabannya adalah “Ya” – maka go ahead, Anda tidak terlalu perlu mencemaskan hasilnya – karena toh perjalanan untuk menempuhnya-pun sudah bisa Anda nikmati !.



Sebaliknya bila jawabannya “Tidak” atau Anda masih ragu, sebaiknya tunda dulu ide Anda dan cari ide lain – sampai Anda ketemu ide yang Anda bisa menikmati ‘perjalanan panjang’-nya.



Mengapa ini penting ?, bayangkan bila Anda harus tersiksa sepanjang perjalanan yang panjang untuk hasil yang juga belum tentu Anda nikmati – rugi dua kali Anda !.



Lantas bagaimana ini dengan pepatah yang kita kenal ‘berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian ?’ Tidak ada kaitannya !. Yang saya maksud ‘menikmati perjalanan’ bukan berarti berfoya-foya menghamburkan uang, menyia-nyiakan waktu, kerja santai dan sejenisnya – tetapi adalah menata hati Anda – bahwa dalam menghadapi segala macam jerih payah , cobaan dan penderitaan yang painful ketika merintis usaha – Anda masih bisa menikmatinya – seperti Anda memiliki dua kuda Umar, yang manapun yang sedang Anda tunggangi tidak menjadi masalah bagi Anda. InsyaAllah !.
Friday, January 13, 2012 | 0 komentar | Read more...
Apa Yang Masih Tersisa…?

Apa Yang Masih Tersisa…?

Oleh Muhaimin Iqbal
Sabtu, 17 December 2011 09:34

Suatu saat seorang aktivis muda melakukan perjalanan dakwah di negeri non-muslim. Dia berjalan mengetuk pintu dari satu rumah ke rumah lain untuk didakwahi, tetapi seluruh rumah yang diketuknya menolak dia dengan berbagai cara. Setelah kelelahan hari itu hendak pulang ke penginapannya, dia melihat ada satu rumah yang tidak terawat dan nampak seperti rumah suwung (rumah yang tidak berpenghuni) – maka dalam upayanya yang terakhir dia datangi rumah ini dan mulai mengetuknya pula. Terkejut dia ketika yang muncul dari dalam rumah adalah seorang laki-laki paruh baya yang hanya mengenakan celana kolor.



Melihat tampilan laki-laki penghuni rumah yang seperti ini, si aktivis dakwah dengan sopan minta maaf dan hendak langsung pergi. Tetapi si lelaki tersebut mencegahnya, dipegangnya tangan si aktivis dan diajak masuk kedalam rumah.



Dengan perasaan khawatir dan penuh tanda tanya, si aktivis mengikuti lelaki tersebut memasuki rumah. Dilihatnya dalam rumah yang berantakan dan penuh debu si aktivis tidak tahan untuk bertanya – namun sebelum sempat berucap apa-apa, si lelaki berkolor tadi mendahului bicara.



“Rupanya engkaulah yang diutus Tuhan untuk menemuiku !”, tidak sabar si aktivis, dia bertanya : “mengapa tuan berpikir demikian ?”. Lelaki tersebut kemudian menjelaskan : “ Aku tadi sebenarnya hendak bunuh diri, namun sebelum aku melakukannya – aku ingin bicara dahulu dengan Tuhan”. Semakin penasaran si aktivis, dia menyela : “bagaimana tuan bicara dengan Tuhan ? apa yang tuan ingin sampaikan ?”.



Lelaki tadi kemudian menjelaskan : “ Aku berdo’a, Ya Tuhan – jika engkau bener bener ada, utuslah seseorang untuk menemuiku, aku akan berhitung sampai tiga kali. Bila sampai hitungan ketiga tidak datang utusanmu, maka aku akan membunuh diriku”. Lelaki tadipun melanjutkan : “lalu aku mulai berhitung, satu…, dua…, dan sebelum hitunganku yang ketiga aku mendengar seseorang mengetuk pintu rumah ini, aku bergegas membukanya – ternyata engkaulah orang yang dikirim Tuhan itu…”.



Mendengar penjelasan ini, si aktivis tambah penasaran ingin tahu lebih lanjut, dia bertanya : “mengapa sampai tuan ingin bunuh diri ?”. Dengan sedih lelaki tadi menggambarkan penderitaannya : “aku kehilangan pekerjaan sejak beberapa tahun lalu, sehingga seluruh rumah dan harta bendaku sudah aku jual untuk bertahan hidup. Rumah ini-pun bukan rumahku, aku hanya menempati rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya – entah siapa. Dalam kondisi-ku yang seperti ini, istriku-pun lari ke pacar pertamanya dulu dan membawa anak-anakku pula…., aku tidak punya apa-apa lagi yang tersisa”.



Si aktivis-pun berpikir sejenak untuk merumuskan strategi dakwahnya yang pas untuk lelaki yang lagi putus asa ini. Satu hal dia tahu bahwa lelaki ini telah menganggapnya sebagai utusan Tuhan, jadi tentunya dia akan mendengarkan apa saja yang hendak disampaikannya.



Lalu si aktivis memulai dakwahnya di meja persegi panjang yang penuh debu dihadapan lelaki tersebut. Dengan tangannya dia menggaris debu pas di tengah meja, sehingga meja terbagi menjadi dua bagian – bagian kiri dan bagian kanan. Kemudian dia menjelaskan ke lelaki tersebut : “Coba tuan tuliskan di sebelah kiri meja apa-apa yang hilang dari tuan sampai tuan hendak bunuh diri ini…”; Lalu lelaki tadi mulai menulis apa-apa yang dia kehilangan, pekerjaan, rumah, mobil, istri, anak, teman ….dst sampai meja bagian kiri penuh dengan tulisan.



Setelah meja bagian kiri penuh, si aktivis melanjutkan : “sekarang yang di bagian kanan, coba tulis apa-apa yang masih tersisa”. Lelaki berkolor tadi segera menjawab : “Tidak ada lagi yang terisa !, makanya saya mau bunuh diri…?” dia kemudian membiarkan meja bagian kanan kosong.



Si aktivis ingin memandu lelaki tersebut dengan cara yang terbaik menggunakan logika dia. Dia bertanya, “Sejak kapan tuan kehilangan penglihatan tuan ?” Si aktivis sengaja bertanya demikian meskipun dia tahu lelaki tersebut masih memiliki mata yang sempurna. Kaget dengan pertanyaan ini, lelaki tersebut setengah berteriak menjawab “Aku tidak buta, aku masih bisa melihat !”. Si aktivis berpikir ‘kena loe’ , lalu menyampaikan “kalau begitu, tulis di bagian kanan meja bahwa tuan masih punya mata”, lalu lelaki tersebut menulis di meja bagian kanan paling atas “mata”.



Si aktivis melanjutkan pertanyaannya, “Kapan terakhir kali tuan operasi jantung ?.” Si lelaki ini kaget lagi, dia berteriak “Ngawur kamu, aku tidak pernah operasi jantung – jantungku segar bugar”. Lalu si aktivis tersenyum : “kalu begitu, tulis di bagian kanan meja, bahwa tuan masih mempunyai jantung yang sehat !”. Merasa tamunya adalah ‘utusan Tuhan’, lelaki tersebut nurut, di bawah tulisan ‘mata’ , dia menulis ‘jantung’.



Karena tidak segera melanjutkan memenuhi meja bagian kanan dengan tulisan apa yang tersisa, si aktivis dakwah tadi melanjutkan pertanyaannya : “Sejak kapan tuan kehilangan keperkasaan tuan ?”. Setengah tersinggung dengan pertanyaan yang terakhir ini, lelaki tersebut berteriak lagi : “Saya tidak kehilangan kejantanan saya, saya masih perkasa, jangan sok tahu kamu anak muda !”. Dengan sopan dan tersenyum si aktivis dakwah menjawab : “kalau begitu tulis di meja bagian kanan kalau tuan masih punya kejantanan”.



Lelaki tua tadi segera sadar dengan serangkaian pertanyaan tadi, lagipula dia ingat tamunya anak muda ini adalah utusan Tuhan – maka dengan semangat sekarang dia memenuhi meja bagian kanan dengan tulisan-tulisan tentang apa saja yang dia masih miliki , kejantanan, hati, ginjal, tangan, kaki, otak…dst sampai meja bagian kanan-pun penuh.



Setelah meja penuh dengan tulisan, dikiri apa yang hilang dari lelaki tersebut dan di kanan dengan apa-apa yang masih dimilikinya, maka si aktivis dakwah menyampaikan : “Lihatlah tuan, apa yang tuan masih miliki di bagian kanan meja tidak kalah banyaknya dengan apa-apa yang hilang di sebelah kiri; apa-apa yang tuan tuliskan di sebelah kanan juga tidak ada yang kalah berharganya dengan apa-apa yang ada di kiri”.



Begitulah kita semua, sering mengeluh dan menyesali apa-apa yang kita tidak peroleh dan apa-apa yang luput dari kita ; sampai-sampai kita lupa mensyukuri bahwa sesungguhnya yang masih ada pada diri kita tidak kalah banyaknya dan tidak kalah berharganya pula.



Mudah-mudahan kita semua menjadi hambaNya yang pandai bersyukur….amin.
Friday, January 06, 2012 | 0 komentar | Read more...
Bayi Jerapah Di Alam Bebas…

Bayi Jerapah Di Alam Bebas…

Oleh Muhaimin Iqbal
Jum'at, 16 December 2011 07:15

Jerapah adalah binatang yang memiliki postur tubuh paling tinggi yang kini masih hidup di muka bumi, tinggi jerapah dewasa berkisar antara 5-6 meter. Panjang kaki jerapah kurang lebih sama dengan panjang lehernya yaitu sekitar 1.8 meter. Seperti pada binatang ruminansia pada umumnya, jerapah melahirkan anaknya dalam posisi berdiri. Maka ketika pertama kali bayi jerapah keluar dari perut induknya, dia jatuh dari ketinggian lebih dari dua meter dan yang biasanya menyentuh tanah duluan adalah punggung atau badannya – tidak kakinya duluan karena kaki-kakinya masih terlalu lemah saat itu.



Di alam bebas, induk jerapah liar memperlakukan bayi yang baru lahir ini dengan sangat keras. Setelah membersihkan cairan yang masih menyelimuti bayi jerapah dengan mulutnya, untuk beberapa saat induk jerapah kemudian akan memandangi bayinya. Bila dia tidak segera bangun dan berdiri, maka ditendangnya bayi yang masih lemah tersebut berulang-ulang sampai dia bangun kemudian berdiri. Ketika bayinya kesulitan berdiri karena kakinya yang kecil dan panjang, setiap berusaha berdiri dia terjatuh lagi dan lagi, induk jerapahpun akan menendanginya lagi agar si anak segera kuat dan mulai berlari.



Induk jerapah yang sudah diternakkan di kebun binatang, melahirkan anak jerapah dengan cara yang sama yaitu dalam posisi berdiri. Yang membedakannya adalah si induk tidak lagi memperlakukan anaknya dengan kasar, dia hanya membersihkan anaknya sebentar kemudian dibiarkan anaknya bangun perlahan-lahan semampunya. Induk jerapah yang melahirkan di kebun binatang tidak lagi perlu menendang-nendang anaknya untuk secepatnya kuat berdiri dan bisa berlari.



Mengapa terjadi perbedaan kebiasaan ini ?. Jerapah yang hidup di alam bebas tahu betul bahwa berbagai binatang buas di luar sana gemar sekali mengincar anak jerapah sebagai santapannya - harimau, singa, cheetah dlsb. sudah siap-siap berlomba lari untuk menerkam anaknya yang baru lahir. Maka si induk ingin menterapi anaknya sejak dia keluar dari perut sang induk, bahwa dia harus sigap untuk secepatnya berdiri dan berlari sekuat tenaga sehingga bisa menyelamatkan diri pada saat ada bahaya mengancam.



Induk jerapah yang hidup di kebun binatang juga belajar tentang lingkungannya, dia tidak melihat adanya bahaya yang mengancam bayinya disana – sehingga dia tidak merasa perlu menterapi bayinya secara keras. Bila anak jerapah yang lahir di kebun binatang ini dilepas ke alam bebas, peluang survive-nya tentu kalah jauh dengan jerapah yang memang sudah lahir di alam bebas tersebut diatas.



Mirip dengan induk jerapah yang hidup di alam bebas tersebut adalah perilaku para transmigran dan imigran. Para transmigran banyak yang kemudian lebih sukses dari masyarakat sekitarnya yang penduduk asli karena sejak menginjakkan kaki di tanah yang baru, dia melihat berbagai ancaman bahaya.



Demikian pula para imigran, mengapa misalnya warga keturunan negeri ini meskipun jumlahnya sedikit mereka sangat dominan dalam penguasaan ekonomi ?. Ya karena orang tua, kakek-nenek dan leluhur mereka seperti jerapah liar yang melihat lingkungannya penuh bahaya, maka mereka menurunkan awareness kepada anak-anak dan keturunannya sejak lahir dengan kehidupan yang keras untuk bisa survive di lingkungan yang baru.



Itu pula yang menyebabkan kebanyakan kita yang bukan keturunan transmigran dan bukan pula keturunan imigran sering kalah bersaing dalam berbagai hal, kesadaran akan adanya bahaya dari luar sana tidak pernah terbangun ketika kita merasa nyaman hidup di bumi kita sendiri. Bahkan dahulu ketika pemerintah mulai menggalakkan transmigrasi, perlawanan itu datang dari budaya masyarakat yang disebut ‘mangan ora mangan yen ngumpul’ – yang akhirnya memang membuat sebagain penduduk negeri ini bener-bener ‘ora mangan’ !



Kita perlu keluar dari comfort zone kita untuk bisa mengasah awareness akan adanya bahaya dari luar sana. Islam juga memiliki ajaran yang indah tentang ini yaitu ajaran untuk berhijrah !.



Dalam skala makro bahaya yang kita hadapi adalah berbagai kepentingan diluar sana yang sudah berlomba-lomba menterkam segala kekayaan alam dan potensi pasar yang ada di negeri ini. Untuk sumber dayanya mulai emas, tembaga, minyak, gas dan bahkan sector-sektor pertanian, peternakan dan perikanan-pun kini sudah sebagiannya diterkam pihak asing.



Untuk pasarnya, mulai dari bahan pangan, daging, susu,telepon genggam sampai makanan cepat saji semuanya juga sudah diterkam pihak asing. Bagi para pemain pasar global, kita ini seperti bayi jerapah yang baru lahir, lemah sehingga mudah diterkam dan empuk pula dagingnya untuk santapan mereka. Kasus antrian ribuan orang untuk membeli telephone canggih - yang sampai menimbulkan sejumlah korban baru-baru ini adalah contoh betapa lezatnya pasar ‘bayi jerapah’ ini. Untuk membeli barang mewah produk impor-pun orang mau mengambil risiko untuk berdesakan dengan ribuan orang lain, padahal peluncuran produk sejenis di negeri asalnya ditanggapi adem –ayem oleh masyarakatnya sendiri.



Dalam skala mikro pada diri kita, kita tidak bisa cepat berdiri dan berlari kencang karena tidak pernah diterapi dengan keras untuk unggul dalam mengolah sumber daya alam dan pasar yang ada di depan mata kita. Sejak SD sampai perguruan tinggi, kita lebih banyak dididik untuk siap jadi pegawai – ketimbang menjadi pengolah sumber daya alam dan penggarap pasar. Kita seperti rajawali yang salah paham, yang mengira bahwa penguasaan kekayaan alam dan penguasaan pasar adalah competency orang lain.



Akan-kah kita biarkan kondisi kita tetap lemah seperti ini sampai anak keturunan kita ? Insyaallah tidak. Kita harus mulai berhijrah dari dalam kebun binatang ke alam bebas, kita harus mulai melatih anak keturunan kita untuk aware akan bahaya yang mengancam dari luar sana. Seluruh bahaya yang siap menerkam berupa penguasaan ekonomi, budaya, politik sampai juga bahaya idiologi harus bisa kita lawan dengan generasi yang kuat dan bisa ‘cepat berlari’. Rumah kita, sekolah-sekolah anak kita dan masjid-masjid kita harus menjadi tempat untuk penggemblengan generasi yang semakin kuat kedepan – seperti generasi anak jerapah yang lahir di alam bebas. InsyaAllah .
Friday, January 06, 2012 | 0 komentar | Read more...